SOLO - Keraton Kasunanan Surakarta, Jawa Tengah, tetap menggelar kirab pusaka miliknya pada pergantian tahun atau dikenal dengan 1 Suro, Kamis (15/11/2012) dini hari. Acara digelar di tengah minimnya anggaran dari APBD Pemprov Jateng yang tak kunjung cair.
Selain tidak adanya alokasi dana yang selalu dipergunakan pihak Keraton untuk menggelar kirab pusaka malam 1 Suro, perselisihan di dalam tubuh keluarga Keraton pasca rekonsiliasi dua raja kembar tampaknya belum juga berakhir.
Ini terlihat dari sikap tegas pihak Keraton melalui juru bicaranya Kanjeng Pangeran (KP) Satrio Hadinagoro yang meminta Mahapatih Panembahan Agung Tenjowulan untuk tidak diikutsertakan.
"Sampai saat ini, Tedjowulan belum meminta maaf kepada keluarga Keraton. Kehadirannya di setiap acara Keraton bukan kami yang mengundang, tapi Tedjowulan sendiri yang datang. Kami tidak mengundang, dan kami pastikan saat kirab 1 Suro, kami tidak mengundang. Jadi tolong, jangan tanyakan Tedjowulan," jelasnya dalam konferensi pers yang digelar di Keraton Kasunanan Surakarta, Jawa Tengah, Selasa (13/11/2012).
Menyangkut Kirab 1 Suro, simbol utama Keraton yaitu Kebo Kiai Slamet atau biasa dikenal "kebo bule" sebagai simbol kerakyatan berjumlah sembilan ekor, akan turut dikirab bersama 10 pusaka. Selain benda-benda pusaka, barisan abdi dalam Keraton yang mencapai lebih dari 7.000 abdi dalam akan ikut dalam kirab.
Sebelum kirab digelar, prosesi adat lainnya memperingati Paku Buwono ke XII akan digelar. Menurut Satrio, pihak Keraton telah meminta kepada pihak perkantoran dan pertokoan di sepanjang jalur yang akan dilalui Kirab, untuk memasang Penjor layaknya peringatan adat yang digelar di Pulau Dewata, Bali.
"Jadi nantinya, dengan adanya Penjor atau janur ada kesan peringatan Suro tidak hanya hanya milik orang jawa, tapi 1 Suro bisa dijadikan Festival Suro. Apalagi, info yang saya dapat, seluruh tingkat hunian hotel dan persewaan mobil di 1 Suro ini telah habis," pungkasnya.
Selain tidak adanya alokasi dana yang selalu dipergunakan pihak Keraton untuk menggelar kirab pusaka malam 1 Suro, perselisihan di dalam tubuh keluarga Keraton pasca rekonsiliasi dua raja kembar tampaknya belum juga berakhir.
Ini terlihat dari sikap tegas pihak Keraton melalui juru bicaranya Kanjeng Pangeran (KP) Satrio Hadinagoro yang meminta Mahapatih Panembahan Agung Tenjowulan untuk tidak diikutsertakan.
"Sampai saat ini, Tedjowulan belum meminta maaf kepada keluarga Keraton. Kehadirannya di setiap acara Keraton bukan kami yang mengundang, tapi Tedjowulan sendiri yang datang. Kami tidak mengundang, dan kami pastikan saat kirab 1 Suro, kami tidak mengundang. Jadi tolong, jangan tanyakan Tedjowulan," jelasnya dalam konferensi pers yang digelar di Keraton Kasunanan Surakarta, Jawa Tengah, Selasa (13/11/2012).
Menyangkut Kirab 1 Suro, simbol utama Keraton yaitu Kebo Kiai Slamet atau biasa dikenal "kebo bule" sebagai simbol kerakyatan berjumlah sembilan ekor, akan turut dikirab bersama 10 pusaka. Selain benda-benda pusaka, barisan abdi dalam Keraton yang mencapai lebih dari 7.000 abdi dalam akan ikut dalam kirab.
Sebelum kirab digelar, prosesi adat lainnya memperingati Paku Buwono ke XII akan digelar. Menurut Satrio, pihak Keraton telah meminta kepada pihak perkantoran dan pertokoan di sepanjang jalur yang akan dilalui Kirab, untuk memasang Penjor layaknya peringatan adat yang digelar di Pulau Dewata, Bali.
"Jadi nantinya, dengan adanya Penjor atau janur ada kesan peringatan Suro tidak hanya hanya milik orang jawa, tapi 1 Suro bisa dijadikan Festival Suro. Apalagi, info yang saya dapat, seluruh tingkat hunian hotel dan persewaan mobil di 1 Suro ini telah habis," pungkasnya.
0 komentar:
Posting Komentar